Simulasi Memudahkan Mahasiswa Memahami Suatu Kasus
Untuk memberikan pemahaman yang mendalam terhadap kasus tertentu kepada mahasiswa, saya menilai simulasi seperti ini efektif untuk dilakukan dibandingkan metode pengajaran klasikal di kelas. Hal ini dapat dilihat dari antusiasme mahasiswa dalam melakukan simulasi, di mana mereka mendalami peran dan fungsi sebagai aktor yang berkonflik.
Hal ini diungkapkan Sugito, S.IP., M.Si. usai memandu simulasi “Konflik Penambangan Pasir Besi Kulonprogo” di Ruang Simulasi Sidang Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (Simsid HI UMY). Dalam simulasi ini mahasiswa memerankan posisi sebagai pemerintah, perusahaan, akademisi, ornop, dan masyarakat. Selain penambangan pasir besi, simulasi ini juga mengangkat topik “Konflik PLTN di Semenanjung Muria, Jepara”, Kamis (27/12).
Di samping memahami suatu kasus, Sugito yang juga dosen pengampu Resolusi Konflik menjelaskan bahwa simulasi ini mengajarkan mahasiswa untuk bernegosiasi serta merumuskan penyelesaian suatu konflik.
“Salah satu tujuan diadakannya simulasi ini untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melakukan praktek bernegosiasi yang akan berujung pada rumusan penyelesaian konflik, setelah sebelumnya mendapat teori praktis tentang negosiasi dalam perkuliahan,” jelasnya.
Berdasarkan dinamika yang terjadi dalam simulasi ini, Sugito kemudian mengapresiasi keaktifan mahasiswa yang telah memaparkan argumennya dengan sangat baik.
“Saya salut dengan kemampuan anda untuk menjalankan peran dengan baik, serta mendalami kasus ini sehingga saya merasa terbawa pada suasana konflik yang sebenarnya,” paparnya.
Dari simulasi ini Sugito berharap mahasiswa dapat terlibat langsung sebagai mediator dalam kedua penyelesaian konflik yang hingga sekarang belum rampung.
“Setelah anda seolah berada dalam konflik ini, tentunya ada beberapa hal yang kiranya bisa menjadi evaluasi anda untuk pihak-pihak yang berkonflik. Dari simulasi ini saya berharap akan hadir mediator yang dapat menjadi penengah atas konflik penambangan pasir besi, maupun konflik PLTN Semenanjung Muria yang hingga hari ini belum juga terselesaikan,” harapnya. (Fikar)