Feminisme Tawarkan Pola Pikir Radikal

February 27, 2013, oleh: Editor

Feminisme menjadi hal yang sangat menarik untuk dipelajari, karena feminisme menawarkan cara berpikir yang kritis, bahkan cenderung radikal. Untuk itulah dalam banyak pola pikir di kajian hubungan internasional, kajian yang banyak diminati adalah kajian yang berani keluar dari kebiasaan dan menawarkan suatu hal yang ekstrim.
Pernyataan ini disampaikan oleh Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (HI UMY) Prof. Dr. Tulus Warsito dalam diskusi bulanan Laboratorium HI UMY bertajuk “Feminisme dalam Studi HI: Sejarah, Skop, dan Keterbatasan Analisis” di Ruang Simulasi Sidang HI UMY, Selasa (26/02). Turut hadir Dr. Nur Azizah selaku aktivis perempuan dan sekaligus dosen HI UMY sebagai pembicara, serta Ade Marup Wirasenjaya, S.IP, M.A sebagai moderator.
Prof. Tulus mengatakan isu dimarjinalkan atau terpinggirkannya perempuan yang dikemukakan oleh feminisme sebenarnya telah diangkat oleh Islam. Dulunya posisi dan hak perempuan yang tidak terlalu di perhatikan, Islam dengan ajarannya mengatakan surga berada di bawah telapak kaki ibu. Sehingga posisi perempuan setara dengan laki- laki, adapun yang membedakan posisi seseorang dalam Islam yaitu taqwa atau tingkat keimanan pada Tuhan. “Sebenarnya isu terpinggirnya perempuan ini lebih dahulu di angkat oleh Islam, sehingga dalam posisi perempuan itu sama seperti laki- laki,” kata penulis buku Nosajeong ini.
Sedangkan Nur Azizah mengatakan bahwa feminisme lahir didasari kesadaran akan penindasan terhadap perempuan. Feminisme ini bertujuan untuk mengubah kedudukan laki- laki atas perempuan, yangmana laki- laki melakukan sub-ordinasi (menekan) pada perempuan. ”Feminisme itu bertujuan untuk menghilangkan sub-ordinasi laki- laki terhadap perempuan. Sub-ordinasi tersebut merupakan saudaranya diskriminasi,” jelas aktivis perempuan ini.
Nur Azizah juga menjelaskan bahwa feminisme memberikan kontribusi dalam dunia internasional, salah satunya menghindarkan perang antar negara. Jika negara dunia dikuasai oleh sifat maskulinitas, maka perang tidak dapat di hentikan, karena sifat maskulin sangat suka terhadap kekerasan. “Dengan adanya feminisme tersebut dapat menghilangkan perang antar negara dunia, karena feminisme tidak suka akan sifat kekerasan,” ujarnya.
Dari pemaparan Prof. Tulus, perang antar negara bangsa di dunia disebabkan oleh nafsu akan kekuasaan, karena tatanan dunia sekarang sangat mementingkan kekuasaan. Siapa yang mempunyai uang atau status sosial yang tinggi, maka dialah yang akan menguasai dunia. “Gender tak harus jadi patokan perdamaian dunia, dapat kita lihat contohnya Margaret Tatcher, Jeanne Kirkpetrick memanfaatkan kekuatan negara dalam menyelesaikan konflik atau tokoh dalam The Iron Lady dapat juga jadi contoh,” paparnya.
Prof. Tulus juga menjelaskan bahwa dalam mengkaji suatu ilmu lebih baik menggunakan banyak pendekatan atau pola pikir, serta tetap berpikir kritis terhadap suatu hal. “Dalam mengkaji suatu hal jangan pakai kaca mata kuda yang cuma satu arah, tapi coba pendekatan lainnya juga,” jelasnya. (syah)
> Materi Diskusi – Prof. Tulus Warsito
> Materi Diskusi – Nur Azizah-Feminisme dalam HI