Innocent Of Muslim, Kebebasan Berekspresikah?
“Sebagai seorang muslim sudah seharusnya untuk menjaga nilai kesakralan dalam Islam, ketika nilai kesakralan itu diganggu dan di lecehkan maka wajar jika kita marah. Akan tetapi marah bukan berarti merusak melainkan sikap penolakan dari ketidaksukaan”.
Begitulah komentar pakar Politik Islam jurusan Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (HI UMY) Muhammad Zahrul Anam, S. Ag,. M. Si tentang film Innocent of Muslim (IoM) yang diproduseri oleh Nakoula Basseley Nakoula.
“Setiap orang yang memancing tentulah ia mengharapkan pancingannya tersebut mendapatkan hasil, begitu juga dengan orang yang melakukan aksi maka mereka menginginkan adanya reaksi. Sekumpulan mahasiswa yang melakukan aksi demonstrasi menginginkan adanya reaksi dari pihak yang dituntut. Maka ketikaIislam dilecehkan misalnya film IoM maka mereka ingin melihat umat islam marah, sekali lagi boleh marah tapi marah harus pada tempatnya. Mereka menyerang dengan media maka lawan juga dengan media” ungkap dosen HI UMY ini.
Zahrul juga mengungkapkan bahwa pelecehan terhadap islam bukan pertama kali terjadi. Film serupa berjudul “Fitna” oleh G. Wilders bercerita tentang perjuangan jihad Islam sebagai gerakan terorisme dan kekerasan Islam. Penghinaan yang sama dilakukan pula oleh penulis buku “Ayat-ayat Setan” yaitu Salman Rushdi. Selain itu, media cetak Barat pernah memuat karikatur Rasulullah SAW yang diilustrasikan secara tidak sopan. Pertanyaannya adalah, mengapa terkesan ada kesengajaan pihak Barat yang membiarkan penghinaan terhadap Islam? Apakah kebebasan berekspresi membolehkan pihak-pihak tertentu atas nama berkesenian membuat karya-karya yang melecehkan kehormatan pihak lain? Ada beberapa alasan potensial yang menjadi sebab penistaan terhadap Islam tetap berlangsung.
Pertama, implikasi politik ajaran Islam. Seorang pakar sejarah Islam, Bernard Lewis, mengemukakan bahwa Islam yang dalam bahasa Arab disebut Ad-Din dapat diartikan sebagai hukum. Sedangkan cakupan hukum Islam meliputi peribadatan dan kemanusiaan, termasuk politik. Oleh karena itu barat dengan Kampanye “De-Islamisasi” dalam era informasi saat ini dengan menggunakan media tertentu dimaksudkan untuk memberikan stigma bahwa islam dan perjuangan Jihad Islam itu berhimpit dengan kriminalitas, terorisme dan separatisme. Akan tetapi, invasi Barat ke Dunia Islam yang selalu mengatasnamakan proyek pembebasan, demokratisasi dan perlindungan kelompok sipil terhadap rezim represif tidak selamanya memberikan keuntungan bagi penduduk Muslim.
Kedua, kesakralan simbol Islam. Tidak terbantahkan, Rasulullah SAW adalah sosok teladan bagi dua mainstream kelompok besar dalam Islam: Suni dan Syiah. Demikian pula Alquran, kitab suci tersebut merupakan referensi utama umat Islam tanpa kecuali dan sangat terjaga orisinalitasnya. Nilai sakral dua simbol Islam sulit tertandingi oleh Injil dan Taurat. Adian Husaini melalui karyanya Wajah Dunia Islam, mengungkapkan bahwa Kristen mengalami persoalan serius tentang orisinalitas Injil. Lebih lanjut, dia menjelaskan, Injil mempunyai beberapa perbedaan ayat dalam beberapa versi dan edisi, sehingga sulit dilacak edisi Injil yang mendekati kitab aslinya. Namun, Alquran sejak diturunkan kepada Rasulullah SAW tetap terjaga keasliannya. Oleh karena itu, mereka yang berkepentingan merasa perlu melakukan de-sakralisasi terhadap simbol- simbol Islam dengan berbagai cara baik secara perlahan-lahan melalui internalisasi sekularisme, pluralisme hingga liberalisme serta revolutif dengan tayangan-tayangan yang melecehkan umat Islam.
Ketiga, karakter dan pola ofensif Barat yang cenderung keras. Dalam agama Kristen, sebagaimana diungkapkan dalam buku karya Irene Handono berjudul ‘Fitnah dan Teror”, ada mekanisme penyiksaan bagi mereka yang ditetapkan oleh gereja sebagai pelaku bid’ah yang dikenal dengan inkuisisi. Inkuisisi ini adalah perilaku tidak manusiawi kepada orang-orang diluar agama Kristen atau mereka yang dianggap oleh Gereja secara sepihak melakukan perilaku menyimpang. Nasib kelompok minoritas muslim di Spanyol ketika berhasil direbut oleh orang Kristen sangatlah memprihatinkan. Menurut Irene, mereka dipaksa memakai pakaian khusus yang terkesan sebagai hinaan terhadap kelompok Islam. Oleh karena itu, dapat dipahami hinaan terhadap Islam dan Rasulullah SAW memiliki keterkaitan historis hubungan Barat dan Islam. Maka IOM tidak lain bertujuan untuk melemahkan semangat umat islam akan simbol suci yang bertahan selama berabad- abad. (Syah)