Esai "Bunuh Virus Korupsi" Antarkan 2 Mahasiswa HI UMY Ikuti Konferensi ASEAN
Esai berjudul “Kill The Virus of Corruption” dan formulir aplikasi yang kami isi, demikian juga segala jerih payah yang dilakukan saat membuat esai serta usaha mencari berbagai macam data yang dapat dipercaya, akhirnya mengantarkan kami mengikuti Konferensi ASEAN 2013 di Jakarta.
Demikian disampaikan Mahasiswa Hubungan Internasional UMY angkatan 2011 Lucitania Rizky bersama rekannya Rista Herjani usai mengikuti ASEAN Conference 2013 bertajuk Educating ASEAN Societies for Integrity : The Role of Educators & Students in Building Integrity. Kegiatan ini merupakan hasil kerjasama TIRI (Making Integrity Work), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, dan Kementerian Luar Negeri RI yang diselenggarakan pada Senin-Rabu (1-3/4/2013) lalu di Borobudur Hotel, Jakarta.
Konferensi ini dihadiri oleh CEO-TIRI, Mr.Fredrik Galtung dan beberapa praktisi dari beberapa Negara di ASEAN, seperti : Prof. M. Shamsul Haque, Prof. Dr. Edmund Terence, Hajah Sainah Haji Saim, PIKB, Ph.D, MA, BA (hons) PPA, Prof. Wilfredo B. Carada, DR. Antonette Palma-Angeles, Syaifudin Zakir, Dr Choltis Dhirathiti, Mr. Nguyen Duc Nhat, Dr Sok Touch, Dr. Tin Maung Than, Dr. Nualnoi Trirat, dan Prof. Dr. Emil Salim.
Keinginan untuk mengikuti kegiatan ini mulai menggebu-gebu di hatinya saat mengetahui informasi melalui surat elektronik tentang ASEAN Conference 2013 ini. “Pokoknya bisa nggak bisa, harus bisa dan saya harus berangkat ke ASEAN Conference itu,” ungkap Lucitania mengawali cerita perjalanannya.
Lucitania menceritakan bahwa dalam mencari ide untuk menulis esai tentang korupsi ini, ia membaca beberapa referensi yang dapat dipercaya, kemudian mencari inspirasi lewat diskusi dengan salah satu senior di jurusan HI yang berasal dari salah satu Universitas tertua di Indonesia. “Melalui diskusi ini saya menjadi mengerti dan tahu bahwa sebenarnya di Indonesia ini akan diadakan kurikulum Anti Korupsi sebagai mata pelajaran mandiri. Sedangkan pada taraf Universitas, sudah disediakan wadah berupa Lembaga Anti Korupsi atau Badan Anti Korupsi. Selain itu, melalui proses pembelajaran ada juga mata kuliah wajib mengenai Anti Korupsi, yang didapat secara formal maupun informal di kampus,” paparnya.
Lucitania melanjutkan ceritanya, dalam tataran formal mahasiswa bisa mendapatkan pelajaran di kelas dengan dilengkapi dengan sarana buku yang telah disusun oleh Kemendikbud dan TIRI. Sedangkan pada pendidikan informalnya, mahasiswa diberi kewenangan untuk terjun ke masyarakat, institusi daerah, ataupun sebuah departemen untuk mengidentifikasi dan menganalisis langsung tentang aksi korupsi di institusi tersebut. “Konsep ini telah berjalan dibeberapa universitas tenama di Indonesia, seperti UGM, maupun UI. Sayang sekali, UMY, belum memiliki dan mengadopsi kurikulum Anti Korupsi sebagai salah satu mata kuliah wajib,” jelasnya.
Lucitania kemudian menceritakan pengalamannya saat mengikuti rangkaian kegiatan dalam konferensi ASEAN ini, acara pada hari pertama (1/4) merupakan acara penyambutan kepada para peserta dan makan malam bersama di Ballroom Borobudur Hotel, Jakarta. Dilanjutkan hari kedua (2/4), mereka mengikuti seminar yang menghadirkan pembicara kunci dan beberapa narasumber terkait dengan tema yang diangkat dalam kegiatan ini. Berbagai elemen dilibatkan dalam kegiatan ini yakni, mahasiswa, praktisi dan akademisi yang datang dari berbagai lintas disiplin ilmu dan negara dengan latar belakang budaya yang sangat berbeda.
Masih dalam hari kedua, pada siang harinya, mereka mengikuti kelas yang berisi kelompok kecil yang spesifikasinya dibagi per-wilayah. Indonesia dengan Thailand dan Filipina; lalu Vietnam, Laos, dan Kamboja. Mereka memilih untuk masuk kelas Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Dalam kelas ini, mereka mendengar dan memperhatikan presentasi dari para pendidik terpilih dari masing-masing Negara tersebut, akhirnya mereka menjadi lebih tahu dan mengerti mengenai apa saja yang sebenarnya mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal pendidikan untuk mengantisipasi masalah korupsi yang besar.
Banyak nilai-nilai Islami yang sengaja ditekankan di Brunei Darussalam sejak tingkat pendidikan rendah (dasar), itu adalah salah satunya. Singapura juga merupakan orang-orang yang berkomitmen tinggi dalam pemerintahannya, sehingga kegiatan korupsi merupakan hal yang tabu disana. Begitu banyak materi dan pendidikan yang mereka dapatkan, hari kedua ini ditutup dengan melakukan pagelaran seni bersama, adapun Lucitania dan Rista mendapatkan kesempatan sebagai penampilan pembuka dalam Gala Dinner yang menampilkan tarian tradisional Yogyakarta yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Hari kedua (3/4) merupakan hari kelas pemuda, mereka berusaha untuk bisa seaktif mungkin dalam diskusi kelas ini, dimana kesempatan ini merupakan sarana untuk melatih diri ketika berbicara di depan publik internasional. Fasilitator pada kelas ini berasal dari Amerika Serikat, yang memandu para pemimpin masa depan ini untuk belajar kepemimpinan. Kegiatan hari ini ditutup dengan Gala Dinner dan Pagelaran Seni yang ditampilkan oleh para siswa, yangmana mereka menampilkan tari Nawung Sekar yang memukau para hadiri. (fikar)