Pengajar Muda Terapkan Strategi Diplomasi Hadapi Anak Didik
Ternyata dalam menghadapi anak didik, ilmu yang diperoleh di perkuliahan seperti strategi Diplomasi dapat dimanfaatkan. Salah satunya saya rasakan ketika berinteraksi dengan berbagai macam karakter yang dimiliki oleh anak-anak yang saya ajar. Namun kedepannya, ilmu ini akan sangat bermanfaat untuk memasuki dunia kerja yang kurang lebih menghadapi kondisi serupa, namun dengan subjek yang berbeda.
Demikian kesan-kesan dari salah satu Pengajar Muda Anisah Hanif Dwi Rachmawati saat ditemui di lokasi penempatannya di Masjid Asy-Syifa, Dusun Kanigoro, Mancasan, Gamping, Sleman, DI Yogyakarta, Jumat (01/03). Ia merupakan satu dari puluhan pengajar yang berpartisipasi dalam kegiatan bakti sosial dari Korps Mahasiswa Hubungan Internasional (KOMAHI) UMY berupa pengabdian masyarakat yang dinamakan KOMAHI Mengajar. Kegiatan ini berlangsung sejak 28 Februari-3 Maret 2013.
Anisah bersyukur dengan pengalaman yang didapatkannya, pada kesempatan ini ia dipertemukan dengan anak-anak yang memiliki keinginan kuat untuk mencari ilmu.
“Kegiatan ini sangat mengesankan, dan saya mendapatkan pengalaman yang jarang ditemui. Di tempat ini saya sangat bersyukur bertemu dengan anak-anak yang memiliki keinginan kuat untuk mencari ilmu. Walaupun pada awalnya mereka masih malu-malu, namun setelah beberapa waktu bersama akhirnya semakin akrab dan dekat,” ungkapnya.
Terkait dengan pengalamannya sebelum mengikuti kegiatan ini, ia mengakui bahwa dirinya pernah mengajar juga namun yang dihadapinya adalah anak Taman Kanak-Kanak (TK), sehingga strategi pengajarannya kembali ia terapkan.
“Ketika saya menghadapi anak TK, strategi yang digunakan adalah penghargaan dan sanksi. Di kesempatan ini saya kembali menggunakannya yakni dengan memberikan penghargaan berupa coklat atau permen kepada anak-anak yang sudah bisa mengerjakan soal, sedangkan yang belum bisa saya coret pipinya memakai bedak sebagai bentuk sanksi,” paparnya.
Walaupun berbagai kendala dalam mengatur anak-anak dihadapinya selama mengikuti kegiatan ini, namun ia menjadikannya sebuah pembelajaran.
“Di sini kendalanya hanya susah mengatur anak-anak, tetapi intinya seru. Justru dengan keadaan ini saya berusaha untuk lebih tahu lagi untuk menghadapi anak-anak yang memiliki karakter yang berbeda,” jelasnya. (Fikar)