Prof. Makarim Wibisono: Mengurai Kompleksitas Multilateralisme dalam Persidangan Internasional PBB
Yogyakarta, 31 Mei 2025 — Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (HI UMY) menggelar kuliah umum bertajuk “Navigating Through The Complexity of Multilateralism In The United Nations” yang menghadirkan Prof. Dr. Makarim Wibisono, MA., mantan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) periode 2004–2007. Kegiatan ini menjadi bagian dari agenda pembelajaran bagi mahasiswa HI UMY. Sebagai bagian dari perkuliahan Persidangan Internasional, kegiatan ini menghadirkan sudut pandang praktis dari diplomat yang terlibat langsung di lapangan.
Dalam kuliah umum yang berlangsung pada Sabtu siang itu, Prof. Makarim memaparkan pentingnya multilateralisme dalam dinamika hubungan internasional, khususnya melalui wadah PBB. Multilateralisme, menurutnya, adalah pendekatan kerja sama antarnegara yang mengedepankan aturan internasional dan institusi global demi mencapai stabilitas, perdamaian, keadilan, dan pembangunan berkelanjutan.

“Multilateralisme tidak hanya tentang kerja sama banyak negara, tapi juga tentang bagaimana kita menyelesaikan masalah global yang tidak bisa diselesaikan secara unilateral,” ujar Prof. Makarim.
Ia juga mengulas sejarah berdirinya PBB pasca Perang Dunia II, mulai dari Deklarasi Istana St. James hingga Konferensi Yalta, serta alasan kegagalan Liga Bangsa-Bangsa yang menjadi pelajaran penting dalam merancang sistem keamanan kolektif yang lebih efektif. PBB, tambahnya, hadir dengan struktur yang lebih lincah melalui Dewan Keamanan yang beranggotakan 15 negara, termasuk lima anggota tetap dengan hak veto.
Lebih jauh, Prof. Makarim mengupas dua bab penting dalam Piagam PBB: Bab VI tentang penyelesaian sengketa secara damai dan Bab VII tentang tindakan terhadap ancaman perdamaian. Ia juga menyoroti pentingnya misi peacekeeping dan peacebuilding dalam merespons konflik yang tidak bisa diredam hanya melalui diplomasi konvensional.
“PBB itu bukan hanya forum wacana. Ia adalah perangkat nyata yang, melalui misi-misi seperti UNFICYP di Siprus atau intervensi di Bosnia dan Sierra Leone, menunjukkan aksi global untuk perdamaian,” jelasnya.
Sebagai diplomat, Prof. Makarim juga membahas tantangan diplomasi multilateral di tengah dinamika global saat ini. Ia mengkritisi dominasi negara-negara maju yang seringkali menyamarkan kepentingan ekonomi di balik jargon hukum internasional seperti common heritage of humankind, terutama dalam isu sumber daya genetik dan lingkungan hidup.
Indonesia, lanjutnya, punya pengalaman panjang dalam menghadapi tantangan multilateral. Kasus Timor Timur, pandemi flu burung, hingga negosiasi di Komisi HAM PBB menjadi contoh nyata bagaimana diplomasi Indonesia diuji dan berkembang dalam arena global.

Kuliah umum ini juga mendapat tanggapan dari dosen pengampu mata kuliah Persidangan Internasional, Bapak Ade Marup. Ia menyampaikan bahwa kehadiran Prof. Makarim memberikan nilai tambah signifikan bagi mahasiswa.
“Kuliah umum ini menghadirkan salah satu diplomat yang sudah banyak berkiprah dalam berbagai forum multilateral. Prof. Makarim terlibat dalam sejumlah inisiatif global dan memberikan perspektif serta pengalaman berharga bagi mahasiswa HI,” ujarnya.
Menurutnya, kompleksitas dunia saat ini membutuhkan cara pandang baru karena tatanan lama telah mengalami disrupsi, sementara tatanan dunia baru belum terlihat menjanjikan secara pasti.
“Upaya-upaya menyegarkan wawasan untuk melihat dunia yang berubah demikian kompleks niscaya memberi ketidakpastian sekaligus membuka ruang artikulasi bagi Indonesia untuk memastikan posisinya dalam ruang geopolitik yang baru. Menavigasi dengan peta yang jelas, itulah yang dibutuhkan Indonesia agar tidak menjadi kelas periferal dalam tata dunia baru,” tambahnya.
Kuliah umum ini ditutup dengan ajakan kepada mahasiswa untuk terus menggali pemahaman tentang multilateralisme dan peran Indonesia di kancah internasional. “Negosiasi bukan hanya seni, tapi juga strategi yang membutuhkan kepekaan, logika, dan keberanian untuk menjaga kepentingan nasional dalam sistem global yang semakin kompleks,” pungkas Prof. Makarim.
Penulis: Rafida Ilma Nafi’a
Berita terkini
- HI UMY Gelar Yudisium Periode IV 2025/2026, 26 Mahasiswa Dinyatakan Lulus
- Peraih IPK Tertinggi Yudisium HI UMY Sampaikan Pesan Reflektif tentang Perjalanan Pendidikan
- Dubes Bangladesh untuk Indonesia Kupas Dinamika Hubungan Kedua Negara dalam Guest Lecture
- Pusat Studi Keamanan Internasional UMY Gelar Guest Lecture Bahas Transformasi Singapura Menuju Global
- Adakan Kunjungan ke UMY, Kementerian Luar Negeri RI Bahas Pentingnya Keprotokolan untuk Mendukung Diplomasi