UMY Kukuhkan Dua Guru Besar: Perkuat Keilmuan HI yang Humanis dan Inklusif
Senin, 21 April 2025– Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggelar upacara pengukuhan dua Guru Besar, yaitu Prof. Dr. Nur Azizah, M.Si (Bidang Gender dan Politik) dan Prof. Dr. Sidik Jatmika, M.Si (Bidang Keamanan Manusia), di Gedung Ar. Fachrudin B Lantai 5. Acara berlangsung khidmat dan menjadi momentum penting bagi penguatan keilmuan dan kontribusi pemikiran dalam bidang Hubungan Internasional.
Sejumlah tokoh hadir dalam acara ini, di antaranya keluarga, kolega, dosen Prodi Hubungan Internasional UMY, dan para tamu undangan penting. Sorotan utama tertuju pada kehadiran Dr. Agus Haryanto, S.IP., M.Si., Ketua AIHII periode 2023–2026 (Unsoed), Karina Utami Dewi, SIP., MA. (Kaprodi HI UII), Kepala LLDIKTI Wilayah 5 – Prof. Setyabudi Indartono, serta Guru Besar Ilmu Politik UGM – Prof. Dr. Purwo Santoso, M.A.

Prof. Dr. Nur Azizah Tegaskan Pentingnya Pendekatan Feminitas dalam Diplomasi
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Dr. Nur Azizah, M.Si membawakan pidato berjudul “Agency dalam Politik Luar Negeri: Maskulinitas – Feminitas dalam Navigasi Politik Luar Negeri”. Ia mengawali pemaparannya dengan mengangkat fenomena global yang sarat konflik akibat dominasi pendekatan maskulin dalam politik luar negeri, seperti invasi Rusia ke Ukraina dan bangkitnya proteksionisme di berbagai negara.
Prof. Azizah menunjukkan bahwa pendekatan maskulin yang mengedepankan kekuatan dan konfrontasi sudah tidak relevan untuk menjawab kompleksitas dunia saat ini. Ia menegaskan bahwa agency dalam politik luar negeri terbentuk oleh gender, pengalaman hidup, dan ideologi pemimpinnya. Ia menawarkan Feminist Foreign Policy (FFP) sebagai alternatif yang lebih empatik dan adil.
Ia mencontohkan Jacinda Ardern dan Margot Wallström sebagai pemimpin yang menerapkan nilai-nilai FFP, serta menyebut Menlu Retno Marsudi sebagai figur yang mempraktikkan diplomasi damai dan setara, meski tanpa menyatakan secara eksplisit pendekatan tersebut.
Menutup orasinya, Prof. Azizah mengajak akademisi dan praktisi hubungan internasional untuk mengevaluasi ulang teori-teori dominan yang bias maskulin, dan membuka ruang bagi pendekatan yang lebih inklusif dan kolaboratif.

Prof. Dr. Sidik Jatmika Gagas Diplomasi Keamanan Manusia dalam Perspektif Islam
Sementara itu, Prof. Dr. Sidik Jatmika, M.Si mengangkat topik “Muhammadiyah School of Thought: Diplomasi Keamanan Manusia sebagai elaborasi kajian Hubungan Internasional perspektif Islam dan Keindonesiaan”. Dalam orasinya, ia menegaskan bahwa kajian hubungan internasional harus berpihak pada kelompok rentan dan minoritas, serta keluar dari dominasi pendekatan kekuatan besar yang ia sebut sebagai “Gulliver-centric”.
Prof. Sidik menekankan bahwa paradigma hubungan internasional harus bertransformasi dari pendekatan dominan kekuasaan (Gulliver-centric) menuju pendekatan yang lebih berpihak pada kelompok rentan (Liliput-centric). Ia menawarkan Diplomasi Keamanan Manusia sebagai bentuk baru dari kajian hubungan internasional yang lebih empatik, kolaboratif, dan relevan dengan nilai-nilai keadilan sosial.
Dalam pidatonya, ia juga menyoroti Muhammadiyah sebagai gerakan Islam transnasional yang moderat, yang telah lama mengedepankan keberpihakan kepada kemanusiaan melalui amal usaha dan diplomasi global. Muhammadiyah, menurutnya, tidak hanya menjadi kekuatan sosial, tetapi juga aktor penting dalam membentuk diplomasi berbasis nilai dan kemaslahatan.
Dalam penutupnya, ia mengajak seluruh civitas akademika dan komunitas HI untuk membangun tradisi keilmuan yang berpihak kepada nilai-nilai kemanusiaan, berlandaskan prinsip keadilan sosial, serta memperluas peran akademik dalam merespons isu-isu global yang nyata.
Tonggak Baru untuk UMY dan Ilmu Hubungan Internasional
Pengukuhan ini tidak hanya menjadi pencapaian pribadi bagi kedua guru besar, tetapi juga memperkuat posisi UMY sebagai pusat pengembangan ilmu hubungan internasional yang berpijak pada nilai-nilai keadilan, inklusivitas, dan kemanusiaan global. UMY terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan kampus yang Muda Mendunia dan siap bersaing di tingkat internasional.
Penulis: Rafida Ilma Nafi’a
Berita terkini
- HI UMY Gelar Yudisium Periode IV 2025/2026, 26 Mahasiswa Dinyatakan Lulus
- Peraih IPK Tertinggi Yudisium HI UMY Sampaikan Pesan Reflektif tentang Perjalanan Pendidikan
- Dubes Bangladesh untuk Indonesia Kupas Dinamika Hubungan Kedua Negara dalam Guest Lecture
- Pusat Studi Keamanan Internasional UMY Gelar Guest Lecture Bahas Transformasi Singapura Menuju Global
- Adakan Kunjungan ke UMY, Kementerian Luar Negeri RI Bahas Pentingnya Keprotokolan untuk Mendukung Diplomasi